Mengenai Pola Keterikatan atau Kelekatan

Dalam berbagai buku psikologi hubungan modern, teori pola ini sering disebutkan dan digunakan untuk mengetahui pola dinamika pasangan yang sering mengalami power play, di mana terdapat tarik menarik, perang dingin, yang lalu menyebabkan hidup paralel sebagai pasangan. Apa itu pola keterikatan? Masa kecil kita membentuk suatu pola sosial yang sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua mendidik dan mengasuhnya. Jadi bagaimana kita berhubungan secara dewasa itu sama dengan bagaimana orang tua kita dulu merespons kebutuhan emosi kita. Ini adalah teori yang ditarik dari hasil penelitian yang pertama dibuat populer oleh John Bowlby (1969) dan Mary Ainsworth dan koleganya. Walaupun dengan ekspos sosial dan intelijensi kita, selama kita tidak menyadari pola kita sendiri, cara pendekatan sosial ini tidak akan berubah, karena hal ini terjadi secara alam bawah sadar. Sementara di sosial media banyak sekali nasehat yang egois karena kita berada dalam masa di mana hubungan itu tinggal buang, padahal sebenarnya masalahnya ada di diri kita. Bukan berarti bahwa bila kalian sudah banyak bertengkar, itu adalah salah anda, tetapi mungkin bahwa kalian belum saling mengenal apa yang menyebabkan dinamika tidak sehat di antara anda dan pasangan anda.

Maka kita harus mengenal pola keterikatan kita supaya kita dapat menyadari saat ada perasaan-perasaan yang keluar di saat pasangan anda melakukan sesuatu yang menjengkelkan. Ini sangat penting terutama bagi kalian yang sudah berada dalam hubungan kalian secara jangka panjang, di mana kalian sudah melalui honeymoon phase dan fase infatuasi. Bila anda masih di masa-masa awal pacaran, ada kemungkinan anda akan menyadari pola pasangan anda yang terasa tidak cocok, maka lebih baik anda hentikan di situ, karena bisa berarti kalian memiliki kebutuhan emosi yang berbeda.

Tidak hanya itu, dengan mengetahui dan menyadari pola keterikatan/kelekatan kalian, kalian dapat menerapkan langkah yang tepat untuk menumbuhkan anak yang lebih sehat secara emosional, karena menumbuhkan anak yang sehat secara emosional itu lebih gampang daripada memperbaiki trauma antar generasi ini. Anak yang sehat secara emosional akan lebih cerdas secara kesuluruhan dan lebih dapat mencapai kesuksesan di segala bidang.

Ada 4 pola yang disebutkan, yaitu:

Semua orang memiliki tendensi untuk keempat ini namun tidak hitam dan putih, dalam artian ini seperti skala di mana orang akan memiliki 1 yang dominan. Tujuan kita adalah untuk menjadi pola yang lebih secure, karena ketiga lainnya ini adalah pola tidak aman yang juga membuat pasangan anda merasa tidak aman dengan anda karena bisa jadi kalian mengulang lagi masa kecilnya yang tidak aman. Masalahnya, karena budaya kultur Asia yang masih banyak patriarki, sehingga data berkata bahwa banyak pria Asia yang masuk dalam kategori dismissive avoidant dan banyak wanita yang masuk dalam kategori anxious, sehingga dinamika tarik menarik ini sangat kuat. Menurut observasi saya, di Indonesia sendiri banyak pula pria yang masuk dalam kategori anxious, di mana mereka ingin komitmen dengan cepat dan gampang cemburuan.

Apa yang menyebabkan ini?

Di pola secure, anak ini bertumbuh dengan emosi yang divalidasi, memiliki cukup kasih sayang di mana orang tuanya selalu ada untuk menjaganya dan memomong pada saat dia marah ataupun menangis. Emosi negatif tidak ditekan dan bukan berarti dibiarkan, tapi diberi solusi. Dia telah diberikan alat yang tepat untuk meregulasi emosi dan mengatasi konflik, sehingga dia dapat mencari support di hubungannya saat diperlukan.

Di pola dismissive avoidant, anak ini biasanya sering ditinggal atau tumbuh dalam keluarga yang ada KDRT. Sehingga dia terbiasa untuk melakukan semuanya sendiri, dan walaupun terdengar bagus memiliki anak mandiri, pola ini akhirnya terbawa hingga dewasa dan anak ini menjadi dingin saat ada masalah emosional yang terbawa keluar karena dia terbiasa untuk menenangkan dirinya sendiri entah itu dengan melakukan kegiatan lain seperti belajar atau mencetak prestasi sehingga dia melarikan diri, marah, atau freeze pada saat terjadi konflik emosi.

Di pola anxiety, anak ini diberi perhatian yang setengah-setengah. Kadang diberi perhatian, kadang ditinggal, sehingga pada saat ditinggal, biasanya anak ini yang tipenya gampang nangis dan throw tantrum karena perhatian yang inkonsisten. Terkadang orang tuanya datang memberikan perhatian pada saat sedang mood, bukan karena anaknya butuh perhatian, tapi karena dia mungkin merasa anaknya lucu, tapi pada saat sibuk anak itu ditinggalkan. Akhirnya pola ini terbawa ke dewasa dan anak ini menjadi seseorang yang takut ditinggalkan dan memiliki trust issue tinggi, sehingga membutuhkan banyak pengertian dan pengyakinan oleh pasangan. Dia sangat menginginkan intimasi dan gampang sekali lengket, tapi sulit percaya. Rasa gugup dan cemburu itu banyak dijumpai di tipe ini.

Di pola fearful avoidant, biasanya ini karena orang tuanya juga tidak konsisten, namun biasanya dengan menimbulkan rasa takut, sehingga pola ini terbentuk dari maladaptasi. Biasanya orang tua ini memiliki isu mental atau psikologis sehingga mereka susah diprediksi, menakutkan, tidak memberikan rasa nyaman pada anak mereka. Biasanya pada saat anak ini ditinggal, perasaannya itu sering pindah-pindah antara anxious dan avoidant karena dia bingung dengan perasaan dia, karena dia terbiasa dengan ketidaknyamanan dan sesuatu yang tidak bisa diprediksi, sehingga biasanya pola ini biasanya dibarengi dengan isu lain seperti depresi dan BPD pula.

Bila anda mendapati diri anda di salah satu kotak dari tiga yang saya sebutkan dengan pola yang insecure, bukan berarti anda tidak pantas dicintai atau anda tidak normal atau marah pada orang tua anda (karena ingat, mereka juga tidak tahu dan mendapatkan perlakuan sama dari orang tua mereka). Ini tidak mutlak pula melainkan sesuatu yang dinamis selama anda mampu menciptakan rasa aman di pasangan anda. Dia tidak mengulang ketakutan masa kecilnya di sekitar anda dan dari situ kalian dapat bertumbuh bersama. Kunci untuk melewati hal ini bersama adalah dengan menciptakan rasa keamanan emosional melalui komunikasi yang baik dan dapat menangani masalah tanpa pertengkaran.

Dalam hidup kita selama kita melalui berbagai macam hubungan, ini pula akan melatih otak anda untuk menjadi lebih dominan ke pola satu atau yang lainnya. Misalnya anda aslinya tipe secure tapi anda dikhianati, sehingga anda menjadi lebih anxious atau anda aslinya avoidant tapi mendapatkan pasangan secure sehingga menjadi lebih secure. Menurut survey, sekitar 50% populasi itu memiliki pola aman atau secure ini. Namun biasanya mereka sudah berada dalam suatu hubungan jangka panjang sejak muda, tapi bukan berarti juga mereka tidak bisa meninggalkan sebuah hubungan, karena bila mereka berurusan dengan pola insecure, tidak semua bisa mengatasinya dan masalah hubungan itu macam-macam, tidak cuma karena pola keterikatan/kelekatan saja. Untuk menuju pola yang lebih secure, adalah pertama menyadari sendiri anda tipe yang mana, supaya anda bisa mengetahui saat ada perasaan yang tertrigger. Tujuannya adalah supaya anda menjadi pribadi yang lebih secure.

Bagaimana bila anda sudah berada dalam hubungan dengan dinamika tarik menarik yang sangat kuat? Program dan kursus saya akan membantu mengurangi dinamika insecure antara anda dan pasangan, supaya anda benar-benar mengenal pasangan anda dan mengapa dia melakukan yang dia lakukan. Anda bisa memahami latar belakang emosi pasangan anda supaya anda dapat memberikan pengertian yang lebih dan mengurangi konflik karena kesadaran diri pula. Dengan membentuk rasa aman di mana pasangan anda dapat menjadi dirinya saat dengan anda, anda akan saling membantu proses healing anda supaya anda berdua menjadi lebih merasa percaya dan intim dengan pasangan anda. Nah, follow saya terus, karena saya memiliki rencana untuk program self healing bagi kalian yang ingin mengurangi masalah ini secara mandiri. Proses ini mungkin akan terjadi seumur hidup, jadi jangan khawatir, selama kalian memiliki growth mindset dan kemauan untuk selalu bertumbuh menjadi lebih baik dan sehat secara emosional untuk mencapai kedamaian dalam hati.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *